KUASA SIMBOLIK ADAT DAN SYARAK DALAM TRADISI MASYARAKAT MELAYU

Rahman, Fuad (2020) KUASA SIMBOLIK ADAT DAN SYARAK DALAM TRADISI MASYARAKAT MELAYU. Pascasarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Jambi. ISBN 978-602-60957-7-0

[img] Text (KUASA SIMBOLIK ADAT DAN SYARAK DALAM TRADISI MASYARAKAT MELAYU)
Dr. fuad rahman-Cetak.pdf - Published Version

Download (2MB)
[img] Text (Peer Review)
Kuasa Simbolik Adat.pdf - Supplemental Material

Download (506kB)

Abstract

Kajian mengenai adat dan syarak pada konteks kekinian masih relevan dan menarik ketika dikaitkan dengan Islamisasi Nusantara, terutama pada beberapa wilayah Melayu yang tersebar di Sumatera, sebagian Kalimantan dan Sulawesi. Salah satu wilayah Sumatera yang diakui sebagai pusat peradaban Islam-Melayu adalah Jambi, dimana sejak abad ke-14 telah berhasil mendeklarasikan kerajaaan Islam Melayu dan mengintegrasikan dua sistem pemerintahan dan sistem hukum melalui kelembagaan adat. Sebuah institusi yang dijadikan patron oleh masyarakat Melayu karena mampu mengakomodasi bahkan mengintegrasikan kepentingan budaya lokal dan kepentingan agama. Buku ini mengulas bagaimana tradisi masyarakat Melayu menjadikan adat sebagai pola tutur, pikir dan tindak berkenaan dengan etika, hukum dan kebiasaan warisan nenek moyang. Sementara syarak sebagai sumber hukum teologis karena bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, bersifat universal, absolut, dan abadi. Keduanya dinegosiasikan oleh penguasa kerajaan Islam Melayu ketika itu dan pemerintahan adat saat ini, tokoh agama, serta pemangku adat, yang mewacanakan kebutuhan masyarakat Melayu, adatpun memeroleh justifikasi syar’ī—yang dibenarkan secara metodologis—dalam proses penemuan hukum Islam. Sehingga lahir falsafah “Adat bersendi syarak, Syarak bersendi Kitabullah“. Bahkan falsafah ini diklaim oleh banyak wilayah Melayu dalam dan luar negeri, sebagai justifikasi atas keber-Islaman budaya mereka. Kelembagaan adat yang awalnya sebagai institusi yang merepresentasikan kepentingan politik, agama dan adat sekaligus penyedia modal politik, religius dan kultural, pada akhirnya menjadi arena kontestasi kuasa antar kelompok di dalam atau di luarnya untuk memperebutkan, legitimasi, posisi dan disposisi dengan mensubordinasi kelompok lain melalui kuasa simbolik

Item Type: Book
Subjects: 2x4 Fiqih
300 Ilmu Sosial
Divisions: Pascasarjana
Depositing User: Pascasarjana
Date Deposited: 19 Jan 2021 06:45
Last Modified: 02 Aug 2021 09:40
URI: http://repository.uinjambi.ac.id/id/eprint/6361

Actions (login required)

View Item View Item