MAKNA GEBING PADA TRADISI TAHLILAN MASYARAKAT JAWA DI DESA SINGKAWANG KECAMATAN MUARA BULIAN KABUPATEN BATANGHARI

VIVIN VERLIYANTI, AS. 150527 and Mailinar, Mailinar and Aminuddin, Aminuddin (2019) MAKNA GEBING PADA TRADISI TAHLILAN MASYARAKAT JAWA DI DESA SINGKAWANG KECAMATAN MUARA BULIAN KABUPATEN BATANGHARI. Skripsi thesis, UIN SULTAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI.

[img] Text (MAKNA GEBING PADA TRADISI TAHLILAN MASYARAKAT JAWA DI DESA SINGKAWANG KECAMATAN MUARA BULIAN KABUPATEN BATANGHARI)
VIVIN VERLIYANTI,AS.150527-2 ok - vivin verliyanti.pdf - Published Version

Download (6MB)

Abstract

Dalam penulisan skripsi ini yang menjadi latar belakang penulis sehingga tertarik untuk mengkaji dengan judul “Makna Gebing Pada Tradisi Tahlilan Masyarakat Jawa di Desa Singkawang Kecaatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari”. Yaitu bahwa tradisi ini hanya ada pada saat acara tahlilan kematian saja, namun jika pada acara tahlilan selain kematian maka Gebing tidak di sajikan, karena disebabkan gebing ini khusus hanya berapa saat acara kematian. Tradisi ini telah menjadi turun temurun di sajiakan masyarakat setempat saat acara tahlilan kematian. Penelitian ini adalah penelitian yang berbentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan Emik. Dimana penelitian ini bertujuan untuk menemukan, bagaimana sejarah gebing, mengapa masyarakat masih mempertahankan tradisi Gebing dan apa makna yang terkandung pada tradisi gebing. Data yang diambil berupa data yang diperoleh melalui observasi, wawancawa dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang sejarah tradisi Gebing sejak tahun 1979 sejak masyarakat jawa berpindah untuk merantau ke desa Singkawang, gebing merupakan makanan tradisional suku jawa namun hanya disajikan pada saat acara kematian saja, alasanya gebing hanya di sajikan pada acara tahlilan kematian karena gebing merupakan simbol dari orang yang meninggal, jika pada tahlilan selain meninggal gebing disajikan maka masyarakat setempat akan marah karena itu tandanya mendoakan diri sendiri agar mengalami bala, oleh sebab itu tradisi gebing hanya disajikan saat acara kematian saja. Alasan masyarakat desa Singkawang masih mempertahankan tradiai Gebing ini karena sabagai salah satu bentuk dari rasa penghormatan terakhir bagi keluarga yang ditinggalkan untuk almarhum, untuk melestarikan budaya lokal dan juga sebagai penghormatan terhadap nenek moyang atau leluhur. Sebab bagi mereka tidak mungkin meninggalkan tradisi ini yang telah dilakukan secara bertahun-tahun hingga sampai sekarang ini , tradisi gebing tetap dilakukan. Maka dari itu, hal ini perlu di kembangkan dan dilestarikan. sebab dari makna yang tekandung dalam gebing, kelapa dipotong kecil, kelapa dipotong panjang, cabai merah dan cabai hijau, kacang tanah, ikan teri makna yang terkandung dari simbol ini adalah semua makhluk yang memiliki nyawa pasti akan mengalami kematian, segala yang ada pada diri semasa hidup akan musnah seiring berjalanya waktu dan yang tersisah hanyalah amal.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Keywords / Katakunci: Tahlilan, Gebing
Subjects: 2x6 Sosial dan Budaya > 2x6.1 Masyarakat Islam > 2x6.13 Interaksi Sosial
Divisions: Fakultas Adab dan Humaniora > Sejarah Peradaban Islam
Depositing User: Aqlina Usman S.Sos
Date Deposited: 01 May 2020 16:13
Last Modified: 01 May 2020 16:13
URI: http://repository.uinjambi.ac.id/id/eprint/3009

Actions (login required)

View Item View Item